Humor

Ngabuburit di Bulan Ramadhan di dunia maya membaca Humor Abu Nawas mungkin bisa jadi pilihan silahkan ANDA KLICK DISINI

Di atas Kapal Pesiar

Udin dan Ucuk, dua orang gelandangan yang baru saja memenangkan sayembara berhadiah liburan di sebuah kapal pesiar mewah. Ketika berada di atas kapal, mereka bertemu dengan seorang insinyur dari Jepang dan Pengusaha dari Italia. Mereka berempat pun berbincang.

Di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba si insinyur membuang handycamnya yang bermerek Sony, ke laut sambil berkata dengan sombong, “Barang kaya gitu sih di negara saya sudah banyak banget”

Lalu sang pengusaha pun tidak mau kalah, dengan santainya dia melepas jas Armani kepunyaannya dan membuangnya pula ke laut. “Jas elite kayak gitu seh di negara saya sudah pasaran.”

Udin pun kebingungan, karena dia tidak punya apa-apa (wong dia gelandangan). Tapi dia juga tidak mau kalah pamor. Akhirnya dia mendapat ide. Dia pun mengangkat Ucok dan melemparnya ke laut. Dengan bangganya Udin berujar, “Orang-orang kayak gitu mah di negara saya udah kebanyakan”.

Insinyur Jepang dan pengusaha Italia pun hanya bisa melotot kaget…!!!

Tikus Tentang Kelelawar

Malam itu di sebuah got ada seekor ibu tikus dan anak tikus. Mereka sedang mengobrol di pinggir got. Anak tikus melihat seekor kelelawar terbang di atasnya dan kemudian bertanya pada ibu tikus.

“Ibu apa itu yang ada di atas?” tanya sang anak tikus.

Sang Ibu pun menjawab, “Ooooww, Itu kelelawar namanya”

Si anak tikus pun bertanya lagi, “Kok wajahnya mirip kita?”

Sang Ibu menjawab, “Sebenarnya kelelawar itu masih sebangsa dengan kita, tapi dia ambil jurusan penerbangan!”

Resleting Celana

Martini wanita pegawai sebuah kantor swasta asing, pagi itu hendak berangkat kerja. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga tubuhnya seksinya semakin kelihatan lekuknya.

Bus kota yang ditunggunya pun datang, Martini berusaha naik melewati pintu belakang. Tapi kakinya tidak sampai di tangga bus. Menyadari karena roknya terlalu ketat, tangan kiri meraih ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya agar sedikit longgar.

Tapi, masih juga belum bisa naik, diulanginya menurunkan lagi resleting roknya. Namun belum juga bisa naik ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting.

Tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai akhirnya Martini terloncat dan berhasil masuk ke dalam bus. Martini pun melihat ke belakang, ingin tahu siapa yang telah mendorongnya.

Ternyata seorang pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Martini. “Hai, kurang ajar kau, berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!” bentak Martini.

Kata si pemuda kalem, “Yang nggak sopan itu situ mbak, masak belum kenal berani-beraninya nurunin resleting celana saya sampai tiga kali.”

Sangat Religius

Abas masuk ke toko obat dan membeli sebuah kondom. Dengan riang dia bilang kepada pemilik toko bahwa sebentar lagi akan makan malam di rumah pacarnya. “Bapak kan tahu sendiri, biasanya setelah itu kan ada kelanjutannya,” tambah Abas sambil menyeringai. Kondom pun berpindah tangan.

Baru beberapa langkah ke luar toko, dia kembali masuk. “Saya minta satu lagi,” katanya. “Adik pacar saya juga cantik. Agak genit pula. Saya rasa dia juga naksir saya. Siapa tahu malam ini saya mujur,” ungkapnya sambil menerima kondom kedua.

Abas kembali masuk dan minta tambahan satu kondom lagi. “Begini, ibunya juga tak kalah seksi. Penampilannya jauh lebih muda dari usianya. Dan kalau duduk di depan saya, dia selalu menyilangkan kaki. Saya yakin dia juga tak keberatan kalau saya dekati”.

Dengan berbekal tiga kondom, Abas datang ke rumah pacarnya sambil tak putus bersiul. Sajian sudah siap. Pacar Abas, adik dan ibunya sudah menunggu. Abas pun langsung bergabung. Mereka menunggu sang ayah.

Begitu sang ayah masuk ke ruang makan, Abas langsung memimpin doa sambil menunduk dalam-dalam. Yang lain-lain ikut menundukkan kepala.

Satu menit berlalu. Abas makin khusuk berdoa. Dua menit, Abas terus komat-kamit, cukup panjang untuk sebuah doa sebelum makan.

Pada menit keempat, pacarnya menyenggol kakinya dan berbisik, “Saya baru tahu kamu ternyata sangat religius”.

Sambil terus menunduk, Abas menjawab dengan suara hampir menangis, “Saya juga baru tahu ayah kamu yang punya toko obat.”

Dalam Keadaan Darurat

Berkat bantuan seorang saudara, Siswati akhirnya diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Dia mendapatkan ruang kerja di lantai satu, sementara sang bos berada di ruang VIP di lantai 25.

Suatu saat Siswati mendapat telepon untuk mengantarkan berkas penting ke ruangan sang bos. Dengan suara tergesa-gesa sang bos pun meminta dengan sangat Siswati untuk segera mengantarkan berkas penting tersebut. Bos mengingatkan Siswati, ini adalah masalah darurat karena itu dia harus sampai di lantai 25 secepat mungkin.

Sang Bos menunggu dan menunggu, tapi Siswati baru muncul 30 menit kemudian, dengan pakaian yang basah kuyup oleh keringat dan nafas tinggal satu-satu karena ngos-ngosan.

Dengan suara menggelegar si bos meminta penjelasan atas keterlambatan ini dan kenapa Siswati kelihatan seperti diguyur air.

“Begini Pak,” sahut Siswati dengan suara terputus-putus, “Sewaktu saya mau naik lift di sana saya membaca, ‘DALAM KEADAAN DARURAT HARAP GUNAKAN TANGGA”

Bau Badan

Sebuah kantor tengah menghadapi masalah dengan alat penyejuk ruangan. Karena ruangan yang panas membuat karyawan kegerahan dan mulai merasakan bau badan yang tidak sedap. Keadaan semakin meruncing saat masing-masing saling melempar tatapan curiga.

Tak lama kemudian, seorang karyawan yang ‘jujur’ berteriak sambil berusaha meraih kursinya, “Aduh baunya, siapa ya yang punya masalah dengan deodorant?, Salah merk kali yang dibeli?”

Mendengar kalimat itu, Mamat spontan bicara, “Pastinya bukan aku, soalnya aku sedang tidak pakai!”

Perjalanan Canggih

Pada sebuah pertemuan tingkat tinggi negara-negara anggota PBB, tengah dibicarakan masalah kemajuan teknologi di negara masing-masing. “Tim kami pada tahun ini akan mendarat di planet Mars untuk penelitian lebih detail,” ungkap wakil Amerika mengawali pembicaraan.

“Para awak kami merencanakan untuk mengitari bulan untuk membuat satelit pemancar,” sela Rusia.

“Para ilmuwan kami merencanakan untuk membuat pesawat yang sanggup mengelilingi bumi dalam waktu satu jam saja,” tegas wakil Jepang tak mau kalah.

“Para ilmuwan kami malah berencana untuk mendarat di Matahari,” celetuk wakil Indonesia yang membuat negara lain keheranan.

“Wah, teknologi anda canggih sekali bisa menuju Matahari, pesawat kami saja jangankan mendarat, dekat-dekat situ saja sudah hangus,” ungkap wakil AS sambil melihat peserta lain.

“Saya sarankan kalau takut hangus cukup gunakan sun block agar tidak gosong, atau perginya bisa malam hari,” jawab Indonesia

Cerita Bulan Madu

Yuni Silawati, seorang karyawan yang baru saja menikah digoda teman-temannya sekantor. Ia baru sehari masuk kerja, dan selama seminggu menjalani bulan madu ke Pulau Dewata, Bali.

“Waduh yang baru bulan madu, pasti asyik,” goda seorang teman. “Cerita dong pengalamannya saat di Bali, ngapain?” tanya temannya yang lain.

“Ah, paling-paling sama dengan pengalaman kalian saat pengantin baru,” ungkap Silawati tenang.

Mendengar pembicaraan itu, teman Silawati yang sudah menikah dua kali spontan ikut bicara, “Tapi aku waktu menikah kan sudah ndak perawan.”

“Nah apa ku bilang, sama kan,” Silawati spontan

Mencari Gadis Lugu

Abdi Edison merasa bingung saat harus menentukan teman pendamping hidup. Harapannya ingin memiliki istri seorang gadis desa yang lugu. Namun karena dunia informasi yang berkembang hingga ke pelosok desa, rasanya ia kesulitan untuk menemukan gadis yang dicita-citakan itu.

Sebagai pedoman, Abdi Edison berkesimpulan bahwa gadis lugu, adalah gadis yang tidak pernah melihat organ vital kaum pria. Hal ini akan dibuktikan dengan menunjukan ‘miliknya’ kepada sang gadis. Reaksi sang gadis akan menjadi parameter keluguannya.

Tiga perempuan yang sudah dikencaninya dengan spontan menyebut ‘miliknya’ dengan kata ‘rudal’, yang berarti mereka pernah melihatnya karena kebanyakan orang juga menggunakan istilah rudal.

Kini giliran Juminten. Begitu ditunjukkan ‘barang’ itu gadis desa itu pun dengan kalem bereaksi, “Eihh ekor tikus” sambil berusaha menangkapnya. Karena memang dikira seekor tikus yang tidak kelihatan kepalanya.

Abdi Edison pun merasa cocok dengan Juminten, karena terbukti dia belum pernah melihat alat vital kaum pria. Tak mau terlambat, keduanya pun menikah.

Di malam pertama Abdi Edison menerangkan pada Juminten tentang ‘barangnya’ itu, “Sayangku, ini bukan ekor tikus, tapi rudal.”

Namun kecil nyali Abdi setelah Juminten menjawab, “Ah bukan, itu ekor tikus, kalau rudal kan besar. Waktu jadi TKW di Arab aku pernah melihat Meriam.”

Pria Di Kamar Susi

Dirman mampir ke warung Bu Paitun yang tidak jauh dari rumahnya. Di warung itu selain terkenal dengan menu nasi goreng, juga secara sembunyi-sembunyi menyediakan layanan khusus bagi lelaki hidung belang. Susi adalah salah satu penunggu warung yang sedang ngetop dan jadi rebutan.

“Sus, kebetulan nih, temani aku ya,” ungkap Dirman meminta. “Aku lagi ada tamu mas,” jawab Susi spontan menolak.

“Tamu? Dibayar berapa kamu?” sergah Dirman tak mau diduakan. “Rp100.000 mas, tapi masih dikasih Rp30.000, sisanya besok kalau tanggal muda,” ungkap Susi.

“Apa? Main sama gadis secantik kamu cuma Rp100.000, masih ngutang juga?” Sambil menyingsingkan lengan baju, Dirman merangsek ke kamar Susi ingin memberi pelajaran pada orang yang tidak tau diuntung itu.

“Jangan mas, jangan masuk,” cegah Susi. “Sudahlah, kamu diam aja, ini urusan laki-laki,” gertak Dirman meneruskan niatnya.

“Bukan itu mas, masalahnya,” ungkap Susi sepotong.

Mendengar larangan Susi, Dirman semakin berani menghampiri sosok di dalam kamar Susi. Di luar kamar suasana sepi, tidak seperti yang terjadi di dalam kamar. Terdengar kalimat, “Kurang ajar, kamu berani sama aku. Apa pingin tidak makan seminggu.”

Dua menit kemudian Dirman keluar dari kamar dengan wajah luka lebam, penuh ketakutan, “Sus kenapa gak bilang tadi”.

“Aku kan tadi ngelarang mas masuk ke kamar, mau aku jelasin kalau yang ngutang itu Bapakmu, tapi katanya uangnya masih digunakan untuk bayar biaya kuliah sampeyan, jadi aku rela terima Rp30.000,” terangnya.

Alat Pemerah Sapi

Pardi dan Roni dua orang sahabat bekerja di sebuah perusahaan pemerahan sapi. Keduanya mengelola seratus ekor sapi. Masing-masing lima puluh ekor. Karena merasa berat, Roni yang lulusan STM ngomong ke bosnya, “Bos, di Jepang ada alat baru untuk merah sapi bos. Gimana kalo kita beli bos?”

Sang Bos pun menyetujuinya, “Ya.. udah kamu saya kirim ke Jepang untuk mencari sekaligus belajar.”

Akhirnya pergilah Roni ke Jepang untuk membeli alat itu. Tapi Pardi tetap di pemerahan karena Pardi orangnya agak sedikit Telmi (telat mikir, red).

Setelah dua bulan di Jepang. Roni kembali ke peternakan dan langsung mempraktekkan alat yang didapatkan dari Jepang tersebut. Menurut Rony, alat itu sangat aerodinamis, yang sebenarnya justru digunakan untuk para ibu-ibu modern di Jepang yang menolak menyusui anak-anak mereka. Maklum di sana adalah negara Industri, dengan para perempuan yang kecenderungan memilih bekerja.

Setelah melihat kecanggihan alat itu Pardi menjadi tertarik, untuk dipraktekkan alat itu pada istrinya yang kebetulan baru melahirkan. Maka dipinjamnya alat itu, “Ron, pinjam alatnya ya, Gimana nih caranya?”

Roni pun sambil menikmati makan siangnya menjawab, “Langsung tancepin aja”

Maka dibawanya alat itu ke kamar untuk membantu kelancaran ASI sang istri. Namun Pardi heran kok alat ini nggak berhenti-berhenti. Pardi pun mulai kebingungan sambil berteriak, “Ron matiinnya gimana?”

“Nggak usah khawatir…alat itu otomatis, tadi sudah saya setting, kalau sudah dua puluh liter mati sendiri,” jawabnya.

Nginjak Katak

Tiga orang pemuda, Romy, Tejo dan Kribo adalah sahabat karib dari sebuah kampung yang akan merantau ke negeri Pekayon. Untuk mencapai negeri makmur itu, ketiganya harus melewati hutan belantara yang dikenal angker.

Ketika baru sampai di tepi hutan mereka sudah diingatkan oleh seorang kakek, “Hati-hati kalau kalian melintasi hutan. Barang siapa yang menginjak katak di dalam hutan, dipastikan akan mendapatkan jodoh berwajah buruk.”

Romy, Tejo dan Kribo: “Terima kasih Kek atas peringatannya.”

Singkat cerita mereka pun sukses ke negeri Pekayon dan membuat janji akan bertemu dalam jamuan makan malam dengan membawa istri masing-masing. Istri Romy dan Tejo ternyata berwajah jelek, sebaliknya istri Kribo cantik sekali.

Kribo: “Pastinya kalian dulu menginjak katak waktu berjalan di hutan dulu. Iya kan?”

Romy dan Tejo : “Dulu kami memang tidak sengaja menginjak katak!. Kamu rupanya sangat berhati-hati sehingga tidak menginjak katak. Selamat ya!”

Istri Kribo: “Iya, dia memang tidak menginjak katak. Aku yang dulu menginjak katak.”

Romy dan Tejo: “ha… ha… ha”

Terapi seks

Joko Susetyo mendatangi seorang dokter dan meminta nasehat agar kehidupan seksnya dapat berjalan dengan baik. Setelah beberapa saat dokter melakukan pemeriksaan beberapa rekomendasi diberikan untuk pria yang hingga kini belum punya keturunan itu.

“Kesehatan Bapak tidak ada masalah, alias bagus-bagus saja. Mungkin bapak perlu jogging kira-kira 15 KM per hari. Setelah lima hari coba gunakan hubungan dengan sang istri, baru nanti telepon saya,” nasehat sang dokter.

Karena sudah lima hari, sang dokter pun menunggu telepon dari Joko, hingga akhirnya hari keenam sang dokter bertemu Joko di dekat rumahnya.

“Bagaimana pak hasilnya, sudah dicoba? Kok nggak telepon saya?” tanya sang dokter.

“Belum saya coba dok, habis enam hari ini saya berjalan 15 Km per hari. Saya berada 90 Km dari rumah,” tegasnya.

Kelahiran Anak Berawal dari Chatting

Seorang anak penasaran, ingin mengetahui proses kelahirannya di dunia yang fana ini. Sambil merengek, sang anak bertanya kepada bapaknya, “Papa.. cerita dong, tentang kelahiranku”

“Hmm, anakku, memang, sudah saatnya kamu tahu. Lima tahun lalu, papa dan mamamu pertama kali bertemu di sebuah CHAT ROOM YAHOO. Via E-MAIL, kami janjian kopi darat di sebuah CYBER-CAFE. Kami memesan tempat khusus. Mama setuju untuk men-DOWNLOAD dari HARDISK papa. Segera papa bersiap meng-UPLOAD,” ungkap sang Ayah.

“Ternyata tidak satupun dari kami memakai FIREWALL, dan sudah telat untuk memencet tombol DELETE. Akhirnya sembilan bulan kemudian muncul POP-UP kecil berisi pesan: YOU’VE GOT MALE…” (

Pakai Ludah

Seorang Guru bingung, melihat tingkah seorang murid bernama Rudy yang selalu meludahi telapak tangan dan mengoleskan ke dahinya. Dia melakukan hal ini hampir setiap hari, terutama saat mulai membaca.

Si Guru bertanya, “Kenapa selalu mengusapkan ludah di dahi kamu?”.

Lalu si Rudy menjawab, “Biar mudah masuk ke otak saya bu, supaya saya hafal, soalnya kalau malam-malam saya suka dengar suara mama ‘Pa kalau susah masuk, pake ludah aja!”

2 Tanggapan

  1. wah sedikit mengurangi suntuk karena kedaluan tidur … tq.

  2. hahahahahahha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: