MALU pada PERAN KITA

ada 5 orang tidur terlentang diatas lantai masjid, yang terlihat hanya kakinya saja, stelah itu ada 2 orang datang sebut saja Sahi dan Sali, “siapa yang tidur orang-orang ini?” tanya sahi kepada sali, “tidak tahu ya gus, yang kelihatan cuna kakinya” .. lalu secara bersamaan dan kebetulan saja, tangan-tangan kelima orang yang tidur itu menjulur keluar sehingga bisa dilihat dengan jelas oleh sahi dan sali, “bagaimana apa kamu bisa mengenali orang-orang ini?” Gus Sahi bertanya lagi kepada sali, “ya tidaklah gus, saya tidak mengenali kelima orang ini dengan hanya melihat kaki dan tangannya gus” jawab Sali dengan nada agak ketus” lalu Gus Sahi menarik kain penutup kelima orang itu kearah kaki, sehingga kakinya tertutup dan muka kelima orang itu jelas terlihat oleh Sali, spontan saja sali setengah berteriak ” Ini marjuki, ini slamet, ini Agus, ini Joko, dan ini Sanen gus”…

Secara sederhana orang bisa mengenali orang lain dengan cepat hanya dengan melihat raut mukanya saja, Muka kita bisa mencermikan seluruh tubuh kita, muka kita yang hanya bisa berekspresi, kita bisa menyimpulkan orang lain itu lagi sedih, gundah, galau, dan gembira dengan melihat ekspresi muka yang ditampakkan

Muka juga sebagai ekspresi disaat kita merasa Malu, diwaktu kecil kita sering menutup muka disaat kita merasa malu, Rasa Malu ditanamkan oleh orang tua kita sejak kita masih berumur dibawah 10 tahun, orang tua kita berharap rasa malu sebagai kontrol sosial kita disaat kita berinteraksi dengan teman, saudara dan kerabat kita

Tidak ada satu orangpun didunia ini yang tidak mengenal rasa malu, tetapi permasalahannya adalah sampai kapan kita bisa mempertahankan rasa malu, seberapa besar usaha kita untuk selalu bertahan di fase MALU…

Pada saat kita diberi beban tanggungjawab pada profesi kita pertama-tama yang harus ternamam adalah Rasa Malu, malu kalau-kalau kita tidak bisa menjalankan beban tanggungjawab itu, karena ilmu pengetahuan, pengalaman, tingkat pendidikan, tingkat kepangkatan, tingkat pendidikan profesional dan percaya diri tidaklah cukup sebagai faktor-faktor penunjang keberhasilan kita dalam menjalankan beban tanggung jawab kita.

dari setiap kita menjalankan peran kehidupan kita sesuai dengan peran yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita, dan percayalah hanya rasa malu yang bisa menjaga PERAN kita yang telah diberikan oleh Tuhan untuk selalu bisa menjadikan Peran kita menjadi Peran yang menyejukkan hati setiap orang di sekitar kita.

Tulisan ini khusus buat Bapak-bapak di Polsek Randuagung, mungkin dengan sedikit membaca tulisan ini bisa Malu sehingga cepat bergerak untuk mengungkap beberapa kasus pencurian yang saya tulis di https://sudutp4nd4ng.wordpress.com/2012/03/24/review-remunerasi-polri-kinerja/

2 Tanggapan

  1. salam kenal yaa…:) sukses slalu ya

  2. terkadang manusia tanpa sadar telah melakukan hal yang memalukan, tapi itu semua bisa di cegah jika kita menyadarinya.. :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: