Doa yang (Tidak) Terkabul

Akbar marah kepada dirinya sendiri. Ia merasa dibodohi. Pak Ustadz telah membohonginya. Segala nasihat yang diberikan Pak Ustadz sudah ia laksanakan. Dengan sekeras-kerasnya. Dengan seserius-seriusnya. Tapi, satupun tak ada yang sukses. Semua tak membekas.

Maka ini hari ia harus bertemu Pak Ustadz. Ia hendak menyampaikan protes. Pokoknya protes! Keras! Biar Pak Ustadz sadar bahwa nasihatnya banyak yang tidak membawa keberhasilan pada umatnya.

Di persimpangan jalan, Akbar tertegun. Dari jauh ia melihat sesosok tubuh yang amat dikenalnya. Nadira? Ya, Nadira. Gadis tercantik di kompleks perumahannya.

Dada Akbar berdesir. Mukanya memerah jambu. Ah, andai aku berhasil memilikinya, pasti senang hati ini. Mata Akbar tak berkedip, bahkan ketika Nadira sudah menegurnya.

“Mari Mas Akbar…..” sapa Nadira ramah.

Akbar tergeragap. Hatinya limbung. Matanya mengerjap bagai burung hendak terbang lepas.

“Oh, ya…Mari…Mari….”

Nadira terkekeh. Akbar mengutuki dirinya sendiri. Sialan! Kurang ajar! Hei, bukankan aku hendak ke rumah Pak Ustadz buat protes?

Akbar mempercepat langkahnya. Kebetulan, Pak Ustadz sedang membakar sampah dedaunan di halaman. Ia tersenyum melihat Akbar mendatanginya.

“Pak Ustadz, saya mau protes!” kata Akbar keras. Tanpa basa-basi.

“Oh, ya?” Pak Ustadz sedikit kaget. “Protes masalah apa, Mas Akbar?”

“Saya sudah berdoa terus-menerus Pak Ustadz, tapi satupun doa yang saya inginkan tidak ada yang terkabul. Sampai hari ini. Saya sudah sampai taraf malas berdoa. Bosan!”

“Hm…”

“Saya berusaha jujur dalam berucap. Saya tak pernah bohong. Tapi, rezeki yang saya inginkan di kala berdoa, macet melulu. Bisnis malah jadi tak pernah lancar.

“Lalu…”

“Saya juga tak pernah makan makanan yang haram. Saya selalu memakan makanan yang halal. Namun, anak yang saya inginkan belum juga lahir dari rahim istri saya. Terus….”

“Terus, bagaimana Akbar?”

“Saya juga berusaha menjaga pandangan….”

Akbar tidak meneruskan ucapannya. Bayangan peristiwa pertemuan dengan Nadira masih membekas. Indah, begitu indah. Tapi, ia sadar, dirinya tidak berusaha menjaga pandangan. Bahkan mimpi untuk memiliki Nadira masih terus bersemayam, meski ia sudah beristri sekalipun. Ah, Nadira.

“Oh, ya. Pak Ustadz yang ketiga ini paling sulit. Saya belum mampu….”

Suara Akbar terbata-bata. Akbar malu. Benar! Ia didera rasa malu. Pak Ustadz terkekeh. Ia memaklumi perasaaan Akbar. Perasaan seorang laki-laki yang begitu susah menjaga pandangan matanya dari perempuan cantik yang bukan muhrimnya.

“Jadi nggak protesnya?” ledek Pak Ustadz sambil tersenyum.

“Nggak!”

Akbar ngeloyor pergi. Malu. Ia membatalkan protesnya. * * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: