Mengenal Lebih Jauh Terompet VUVUZELA dari Afrika

Pertandingan perdana Piala Dunia 2010 antara Tuan Rumah dengan Mexico terdengan suara yang mirip suara lebahyang ternyata berasal dari bunyi terompet yang ditiup oleh para pendukung tuan rumah, VUVUZELA adalah terompet khas negara Afrika….

Untuk menggunakan vuvuzela, tidak diperlukan teknik yang rumit. Kita hanya memerlukan fleksibilitas mulut dan tentu saja kekuatan paru-paru untuk meniupnya. Untuk memudahkan cara penggunaan, perusahaan produsen vuvuzela, Boogieblast pun merasa perlu untuk memberikan tip ringan: Posisikan bibir Anda di dalam ujung terompet agar mengeluarkan suara “menggelegar”. Saat meniup, bibir harus dibiarkan bergetar agar mengeluarkan suara. Tiuplah sekuat-kuatnya agar mengeluarkan suara yang keras.


Sejarah

Pada zaman dulu, vuvuzela atau “lepata” terbuat dari tanduk rusa jantan dan ditiup untuk mengumpulkan warga di desa-desa Afrika. Terompet ini menjadi makin populer pada pertandingan sepakbola mulai pada akhir 1990-an. Masincedane Sport, sebuah perusahaan olahraga melihat peluang bisnis dengan memproduksi vuvuzela secara massal pada 2001. Dengan bahan plastik, vuvuzela kemudian diproduksi dengan berbagai warna. Warna hitam atau putih digunakan oleh pendukung klub Orlando Pirates, sementara kuning untuk Kaizer Chiefs dan demikian seterusnya.
Asal kata “vuvuzela” itu sendiri sampai sekarang masih dalam perdebatan. Mayoritas mengatakan, asalnya dari kata “isiZulu” yang berarti “membuat gaduh”.

Sejak pengumuman pada 15 Mei 2004 bahwa Afrika Selatan ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, vuvuzela semakin populer saja. Dan pada hari pembukaan pesta olahraga terbesar dunia kemarin, sekitar 20.000 vuvuzela langsung terjual habis di pedagang kaki lima.

Bising

Tahukah Anda, menurut penelitian terbaru, suara yang dihasilkan vuvuzela itu lebih keras (127 desibel) daripada suara drum (122 desibel) atau bunyi peluit wasit (121,8 desibel). Maka wajarlah, jika tidak semua orang menyukai suara vuvuzela. Beberapa warga Johannesburg yang ditemui menjelang pertandingan pembukaan antara Afsel dan Meksiko mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk menonton pertandingan di rumah daripada mendengarkan suara vuvuzela yang memekakkan telinga. Terlihat pula sekelompok perempuan yang sengaja datang ke stadion dengan membawa alat penutup kuping.
Suara bising vuvuzela sebenarnya sudah menjadi buah bibir pada Piala Konfederasi 2009. Stasiun televisi Eropa yang menyiarkan Piala Konfederasi mengeluh karena laporan mereka tak terdengar di layar televisi, kalah oleh kebisingan vuvuzela. Repotnya lagi, pekikan vuvuzela pun ternyata sampai ke lapangan, mengganggu konsentrasi para pemain yang sedang berlaga.

Namun, bagaimana pun, vuvuzela tetap akan hadir mengiringi Piala Dunia hingga sebulan ke depan. Bagi tuan rumah Afrika Selatan, alat tiup ini merupakan simbol yang sudah mengakar sejak lama, dan tak dapat terpisahkan dari dunia sepak bola mereka, seperti halnya drum Samba di Brasil, dentingan bel sapi Swiss serta tradisi Mexican Wave. FIFA (Federasi Internasional Sepak Bola Dunia) hanya bisa menegaskan agar para suporter tidak membunyikan vuvuzela saat lagu kebangsaan tengah dinyanyikan. Penonton juga dilarang melemparkan vuvuzela ke lapangan jika kecewa dengan penampilan tim kesayangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: