Jembatan Jalur Propinsi Putus: Bencana atau Berkah???

Jembatan yang dibangun tahun 1980-an pada masa pemerintahan penjajah Belanda yang menghubungkan Jalur Jember dengan Surabaya via lumajang putus, hampir 3 minggu jalur ini dialihkan lewat Randuagung, sebagian orang banyak yang mengeluhkan kejadian ini, orang jember harus rela jika waktu tempuhnya bertambah sekitar 1/2 jam dari biasanya jika mau ke surabaya, karena selain sempit banyak tikungan tajam di sepanjang jalur randuagung, warga lumajang sendiri juga mengeluhkan ini jika mereka mau melakukan perjalanan ke probolinggo atau Surabaya jika memakai kendaraan pribadi harus lewat jalur tikus yang memakan waktu tempuh 1/2 jam lebih lama, jika akan menggunakan kendaraan umum harus pergi ke Klakah terlebih dahulu…
Yang paling merasakan dirugikan adalah distribusi pasir lumajang, distribusi emas hitam dari lumajang harus rela juga jika omzetnya harus menurun dan juga akan berakibat pada pendapat APBD Kabupaten lumajang…
Dari sekian akibat yang nerugikan di atas…ternyata putusnya jembatan ini juga membawa berkah pada beberapa warga, seperti tukang ojek yang mangkal di pertigaan dekat Pompa Bensin klakah, para tukang ojek yang kalau hari-hari biasa hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 30 ribuan, sekarang mereka mampu menghasilkan di atas Rp. 75 ribuan, berkah ini juga dirasakan oleh beberapa warga di sepanjang jalur Randuagung…karena jalur Randuagung banyak tikungan tajam dan sempit seperti di Pertigaan Curahtekor jika berpapasan dengan kendaraan besar harus harus masuk satu-satu dulu dan berakibat antrean panjang, hal ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mengatur arus lalulintas supaya tidak macet total…tentunya mereka mengharapkan imbalan uang receh dari para pengguna jalan…
Hal senada juga terjadi di pertigaan Ledok Tempuro (terkenal dengen pertigaan Ledok EL) karena disana ada lintasan kereta api yang jalurnya sangat sempit, pengguna jalan jika berpapasan dengan kendaraan besar juga harus masuk satu-satu, disini antrean terlihat lebih panjang ketimbang Curah tekor, menurut pengakuan beberapa relawan yang mengatur arus lalulintas mereka dalam setengah hari saja bisa menghasilakn sekitar Rp. 50 ribuan…
Jika anda menempuh jalur Randuagung…ada pandangan menarik sepanjang jalur itu…karena sebelumnya jalur ini tidak pernah dilalui trayek Bus antar kota dan kendaraan-kendaraan besar…warga sepanjang jalur Randuagung menganggap bahwa kejadian ini menarik untuk dilihat, jika kita perhatikan banyak warga yang duduk duduk di depan rumah untuk melihat ramainya arus lalin di depan rumahnya…apalagi kalau sore samapi malam hari mereka sampai-sampai membawa temapt duduk kedepan rumahnya atau di teras rumahnya….maklum orang desa….tapi jangan dihina ya karena penulis blog ini kelahiran Randuagung…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: