Download isi, rangkuman, sinopsis Buku Tandingan Girita Cikeas

Buku ini, secara tampilan hampir sama dengan Membongkar Gurita Cikeas. Juga substansinya: sama-sama memakai data utama dari kliping media. Inilah sebagian isi buku balasan untuk George Aditjondro yang ditulis juniornya sendiri, Setiyardi, yang sama-sama mantan wartawan Tempo.

Halaman awal setelah cover dari buku ini dimulai dengan tulisan besar: Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Revisi Buku, oleh redaksi politik indonesia.com.

Pada halaman selanjutnya, ada judul Prolog. Isinya, hampir sama dengan cara George Aditjondro mengungkapkan data awal pada bukunya. Yaitu memakai kutipan.

Bedanya, dalam buku berjudul Membongkar Gurita Cikeas, George mengutip pidato Presiden SBY saat memberi penjelasan tentang kasus yang sedang berkembang, yaitu ketegangan KPK dan Polri.

Dalam buku Hanya Fitnah & Cari Sensasi, Setiyardi mengutip pendapat Metro TV yang melansir pemberitaan tentang launching buku George di Yogyakarta. Bahwa, buku yang dilaunching oleh George itu hanya cari sensasi.

Lalu, sama seperti George, Setiyardi juga membangun opini bahwa buku Gurita Cikeas itu hilang dari pasaran setelah dirilis. Inilah yang membuat masyarakat jadi penasaran terhadap isinya.

Padahal, di sini Setiyardi membalas George dengan pernyataan Amien Rais, yang intinya menyebutkan bahwa buku Membongkar Gurita Cikeas, banyak memiliki kelemahan. Terutama dalam hal sumber data.

George, seperti Setiyardi mengutip Amien Rais, hanya menyajikan data sekunder. Yaitu data dari kliping koran, internet dan jurnal.

Penulis Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Revisi, Setiyardi mengajak masyarakat untuk mencermati isi buku Membongkar Gurita Cikeas di Skandal Century.

Mantan wartawan Tempo ini ingin masyarakat ‘terbuka matanya’, melihat isi buku karangan George Junus Aditjondro tersebut. Sebab, data-data yang dijabarkan merupakan data sekunder, seperti kliping koran, internet, dan jurnal.

Aditjondro sama sekali tidak melakukan konfirmasi terhadap sumber-sumber, yang dikutipnya. Tidak ada wawancara, interview, langsung dengan tokoh terkait, dan tidak ada referensi silang untuk memperoleh validitas.

Contohnya, Aditjondro menyebutkan aliran dana Bank Century dari pengusaha Boedi Sampoerna ke koran harian Jurnal Nasional, Blora Centre dan Jurnal Bogor. Nama Ramadhan Pohan sebagai pemimpin redaksi Jurnas, dan Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, tersangkut.

Ketika data itu dirilis, Rabu 23 Desember 2009, bukan hanya rekan pers yang menghubungi Pohan untuk mengklarifikasi hal ini. Sampai-sampai keluarganya stres ketika mendengar Pohan terlibat dalam kasus kucuran duit Century.

Tidak tinggal diam, Pohan membantah mentah-mentah tuduhan Aditjondro. Bahkan, anggota DPR Fraksi Partai Demokrat ini memprediksi, Aditjondro akan segera kena batunya.

Perkiraan Pohan terbukti. Aditjondro dilaporkan ke polisi, karena melakukan pemukulan. Saat lauching bukunya di Jakarta, Rabu 30 Desember, pengajar Ilmu sosiologi di Universitas Newcastle, Australia itu mengibas muka Pohan, dengan buku.

Tidak hanya di dalam bukunya, Aditjondro menuduh insiden antara Pohan dengan dirinya, sudah diskenariokan. Bahkan Pohan diimbau Aditjondro, untuk berterima kasih. Sebab, dipukul hanya dengan buku, bukan ditinju dengan tangan kanannya.

Di dalam buku Membongkar Gurita Cikeas di Skandal Bank Century, sang penulis beberapa kali mengatasnamakan “kecurigaan masyarakat” dalam menuding adanya aliran dana ke Partai Demokrat.

Salah satunya pada halaman 26, “..Kecurigaan masyarakat bahwa keluarga Sampoerna tidak hanya menanam modal di kelompok Media Jurnal Nasional, tetapi juga di simpul-simpul kampanye Partai Demokrat yang lain, yang juga disalurkan lewat Bank Century, bukan tidak berdasar…

Penulis Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Revisi, Setiyardi menilai kalimat “..Kecurigaan masyarakat…” menunjukkan Aditjondro ragu-ragu.

Bahkan untuk menyakinkan bahwa benar-benar adanya aliran duit Century, Aditjondro mengacu pada laporan Keuangan PT Bank Century Tbk untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 Juni 2009 dan 2008, menunjukkan bahwa ada penarikan simpanan pihak ketiga sebesar 5,7 triliun.

Namun, ujar Setiyardi, data laporan keuangan Bank Century itu tidak dilampirkan di dalam buku. Lagi-lagi, Aditjondro tidak melakukan konfirmasi terhadap sumber-sumber, yang dikutipnya. Tidak ada referensi silang untuk memperoleh validitas.

Selain itu, bukan hanya soal aliaran dana Bank Century dari deposan Boedi Sampoerna ke koran harian Jurnal Nasional. George Junus Aditjondro selaku penulis, juga menuduh pengelola Bravo Media Center (media kampanye SBY), Rully Ch Iswahyudi.

Padahal, Rully selaku Direktur Komersial dan IT, tidak pernah terlibat dalam pengelolaan Bravo Media Center. Dalam keterkaitannya sebagai Tim Sukses SBY-Boediono, Rully sudah mengundurkan diri sebelum pelaksanaan kampanye Pilpres 2009.

Hal ini sebagaimana tertuang dalam notulen Rapat Direksi pada 9 Juni 2009. Dalam notulen tersebut dijelaskan bahwa rapat mendengar penjelasan Rully yang sedang cuti, dan secara khusus dipanggil mengikuti rapat.

Akhirnya, hasil rapat diberitahukan ke Dewan Pengawas, yang meminta direksi menindaklanjuti status Direktur Komersial dan IT dalam tim sukses calon Presiden SBY-Boediono.

Satu Tanggapan

  1. jadi rame nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: