Presiden Wanita Pertama ASIA telah Berpulang

Mantan Presiden Filipina, Corazon Aquino, meninggal Sabtu (1/8), dinihari waktu setempat, akibat kanker kolon. Wanita kelahiran 25 Januari 1933 ini didiagnosa mengidap penyakit tersebut sejak Maret 2008. Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo kemudian mengumumkan masa berkabung nasional selama 10 hari.

“Bangsa Filipina akan berkabung atas kepergiannya,” ujar Arroyo yang sedang berkunjung ke Amerika Serikat, seperti dilaporkan ANTARA. “Saya mengumumkan bahwa kami akan melaksanakan masa berkabung nasional selama 10 hari.”

Aquino adalah presiden wanita pertama di Filipina dan Asia. Aquino berhasil menumbangkan diktator Ferdinand Marcos, yang telah berkuasa selama 20 tahun di Filipina. Perempuan bernama Maria Corazon “Cory” Cojuangco Aquino ini kemudian menjadi presiden pemerintahan transisi pada 1986-1992, setelah revolusi tak berdarah “People Power”.

Wanita yang dikenal senang berpakaian kuning ini kemudian membuat undang-undang dasar baru, mengganti proses pemilu dan memulai pembicaraan dengan kelompok-kelompok perlawanan.

Setelah tidak lagi berkuasa, istri dari mendiang Senator Benigno Servillano Aquino ini menjadi seorang pengecam yang vokal atas korupsi di pemerintahan. Ia juga memimpin berbagai aksi protes terhadap Arroyo

Biografi Lengkapnya….

Cory Aquiono dengan nama lengkap María Corazón Cojuangco Aquino merupakan Presiden wanita pertama di Filipina sekaligus pertama di Asia. Lahir dalam keluarga China-mestizo (indo) yang kaya pada 25 Januari 1986, Corazon yang menempuh studi Sastra Prancis di Amerika dan kemudian mendalamin studi hukum di negerinya sendiri berhasil menjadi orang nomor satu di negeri “Tagalog” selama 6 tahun 4 bulan.

Berbicara perjuangan politik Corazon tidak bisa dilepas dari pembunuhan yang dialami oleh suaminya, Benigno Servillano Aquino. Beniqno Aquiono merupakan politisi sekaligus senator pro-demokratik yang berani dengan tegas mengecam kediktatoran pemerintah Ferdinand Marcos.  Selama sekitar 21 tahun, Marcos memerintah secara diktator, menangkap dan menenjarakan para aktivitis,  ditambah dengan korupsi yang dilakukan keluarga dan kroni-kroninya. Hal yang paling mencolok dari Marcos adalah ia bertekut lutut pada semua kemauan istrinya Imelda Marcos yang menjadi biang kerok korupsi pemerintahan Marcos.

Perlawanan sang Senator berbuah ia ditangkap lalu dimasukkan bui pada September 1972. Selama kurang lebih 7 tahun berada dibalik jeruji besi di Filpina, akhirnya ia diperbolehkan berada di pengasingan (Boston-Amerika) sekaligus untuk mengobati penyakitnya di Boston-Amerika. Setelah sekitar 3 tahun di pengasingan, pada 21 Agustus 1983, Senator Benigno Aquiono kembali untuk pertama kali di Manila, Filpina. Baru turun dari pesawat di Bandara Internasional Manila,  Beniqno Aquiono ditembak oleh oknum. Meskipun dari hasil investigasi menunjukkan Imelda Marcos (istri presiden incumbent) terlibat dalam konspirasi ini dengan melibatkan partai komunis di Filipina, Marcos tetap menepis tuduhan itu.

Pembunuhan terhadap Senator Benigno Aquino menjadi isyarat awal akan terjadinya gerakan massa. Dua juta orang mengantar jenazah ke pemakaman. Setelah itu, antara 1983-1986, Manila dilanda demonstrasi besar-besaran menentang kediktatoran Marcos. Inilah masa-masa paling berbahaya, karena banyak lawan politik hilang begitu saja. Saat itulah Corazon Aquino muncul sebagai tokoh oposisi. Dengan melakukan berbagai gerakan politik untuk menuntut sekaligus mengecam penculikan, penghilangan nyawa para polikus oposisi pemerintah Marcos, kehadiran Corazon sekaligus mewakili “roh” hidup mendiang suaminya, Benigno Aquiono.

Ketika situasi bertambah buruk, Marcos pada bulan November 1985 mengumumkan pemilu presiden ditunda selama 2 bulan lebih dan  baru akan dilaksanakan Februari 1986. Marcos yakin bahwa tak ada orang yang mampu mengalahkan dirinya: ia punya uang, punya senjata, dan pastinya licik. Sebelumnya Corazon Aquino mengatakan hanya mau menjadi kandidat presiden bila dua syaratnya terpenuhi: pertama ditundanya pemilihan umum dan kedua bila mendapat dukungan satu juta tanda tangan. Kedua syarat itu terpenuhi. Corazon Aquino pun lantas menghadap Jaime Kardinal Sin, minta restu. ”Baiklah, berlututlah. Aku akan memberkatimu. Kamu akan menjadi presiden. Kamu adalah Jean d’Arc…. Dan kamu akan menang. Kita akan melihat tangan Tuhan, mukjizat. Tuhan memberkatimu,” kata Kardinal Sin.

Pemilu Presiden ke-11 Filipina akhirnya dilaksanakan pada 7 Februari 1986. Selain intimidasi dan kecurangan hasil pemilu, terjadi pulah kecurangan masif yakni penghilangan hak pilih sebagian warganya yang memiliki kecenderungan pro pada Corazon. Dan pada hari-H,  Gubernur Evelio Javier yang menjadi sekutu utama Corazon dibunuh.  Kematian Evelio Javier menambah daftar panjang kematian para tokoh oposisi. Dari hasil perhitungan National Movement for Free Elections diperoleh Corazon memimpin perolehan suara. Namun, hal-hal ini dapat diantisipasi oleh Marcos dengan mengantikan 30 anggota KPU selama proses perhitungan suara dengan orang suruhannya. Manipulasi hasil perhitungan terjadi, dan KPU-Filipina berusaha menampilkan kemenangan Marcos.

Tanggal 15 Februari 1986, KPU Filipina mengumumkan kemenangan bagi Ferdinand Marcos. Hasil ini tentu saja tidak dapat diterima oleh kubu Corazon yang menyatakan bahwa semestinya mereka yang memenangi pemilu. Pada saat yang sama Corazon menyerukan agar masyrakat memboikot gurita bisnis Marcos. Hal serupa disampaikan Konferensi Uskup Katolik Filipina yang menyatakan bahwa telah terjadi kecurangan dalam pemilu tersebut.

Ketika situasi makin memburuk, sebelum tanggal 22 Februari 1986, Wakil Staf AB Jenderal Fidel Ramos dan Menteri Pertahan Juan Ponce Enrille membelot dan menyatakan bahwa Marcos telah berbuat curang. Mereka meminta Presidennya untuk mengundurkan diri. Mereka juga mengatakan, pemenang pemilu sesungguhnya adalah Corazon Aquino.

Pada saat itulah Jaime Kardinal Sin lewat radio Veritas meminta umatnya untuk melindungi kedua petinggi militer itu yang hendak diciduk tentara Marcos pimpinan Kepala Staf AB Jenderal Fabian Ver. Pada 22 Februari 1986, jutaan orang turun ke Epifano de Dos Santos Avenue (EDSA). Inilah yang kemudian disebut sebagai “People Power Revolution ” yang mengakhiri kediktatoran Marcos.

Peristiwa People Power Revolution ini juga dikenal dengan nama Revolusi EDSA. EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang merupakan tempat aksi demonstrasi berlangsung. Hal yang menarik adalah meskipun gerakan People Power disebut sebagai revolusi besar di Filipina, namun berlangsung damai. Demonstrasi massal dengan jutaan orang ini berlangsung selama empat hari di Metro Manila dengan tujuan untuk mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan Corazon Aquino sebagai presiden.

Untuk menjadi presiden Filipina, Corazon harus melewati perjalanan panjang dan pahit. Ia harus mengalami kehilangan suami tercinta, orang-orang terdekat yang mendukung perjuangannya  dan dibawah tekanan pemerintah yang otoriter. Kisah perjuangan Corazon Aquiono sebelum menjadi presiden, memiliki sedikit banyak kemiripan dengan Megawati Soekarno Putri.

Pertama, hampir sama dengan Aquiono, kairi politik Megawati tidak bisa lepas dari berkah kebesaran ayahnya, Ir. Soekarno selaku mantan Proklamator sekaligus Presiden Pertama RI. Dalam hal ini  Megawati sebagai perempuan berad di bawah bayang-bayang kebesaran Soekarno. Tidak hanya Megawati, tokoh-tokoh wanita pada umumnya (tidak selalu) mendapat persespi baik dari masyarakat bila wanita tersebut menjadi suami, ayah, pacar atau kakek dari tokoh yang memiliki popularitas di bidang politik, kesenian, keilmuan, dan lain-lain.

Kedua, karir Megawati begitu juga Aquiono tidak bisa lepas dari rasa simpati masyarakat atas “musibah” yang menimpa dirinya. Suami Aquiono ditembak dan dizhalimi. Begitu juga ayah Megawati, Bung Karno diperlakukan buruk oleh Presiden Soeharto. Dan masyarakat secara umumnya akan memberi empati yang lebih besar kepada pihak-pihak yang terzalimi atau teraniyai. Namun parahnya, saat ini ada segelintir tokoh politik yang menggunakan cara politik yang  (maaf) busuk melalui pencitraan seolah-olah dirinya teraniayai dan terzalim sehingga rakyat memberi simpati.

Dua kisah perjalanan Megawati dan Aquiono juga diikuti oleh sejarah dalam perjalanan bangsa masing-masing negara. Aquiono menjadi presiden wanita pertama di negeri “tagalog’, sedangkan Megawati menjadi presiden pertama di bumi nusantara. Hanya saja, Aquiono didaulat sebagai presiden wanita pertama Asia sekaligus mendapat berbagai penghargaan dunia internasional seperti kandidat peraih nobel perdamaian 1986, Time Magazina Woman of the Year 1986, International Democracy Award from the International Association of Political Consultants 1986. Setelah pensiun dari kepresidenan, Aquiono mendapat penghargaan One of Time Magazine’s 20 Most Influential Asians of the 20th Century tahun 1999, Martin Luther King Jr. Nonviolent Peace Prize dan masih banyak lagi.

Hal yang berbeda antara Megawati dan Aquiono adalah Aquiono menjadi presiden melewati suatu revolusi yang sangat besar. Bayangkan apabila revolusi ini tidak berhasil, maka tamatlah riwayatnya. Dari sini kita bertanya, mengapa revolusi people power bisa berhasil?

People Power bisa berhasil karena adanya kematangan diri sekaligus mendapat dukungan dari berbagai elemen yakni:

  • massa rakyat dari segala lapisan,
  • elite politik,
  • kelas menengah,
  • kalangan bisnis,
  • tentara, dan
  • Gereja Katolik.

Kenam elemen tersebut bersatu dan bergerak karena muak terhadap pemerintahan Marcos yang korup, yang curang, yang bertangan besi, yang memanipulasi kekuasaan dan mandat rakyat, serta yang hanya mementingkan keluarga dan kelompoknya sendiri.

Hal yang berbeda lagi adalah Megawati menjadi presiden secara tidak langsung setelah skenario Amien Rais mengusur Presiden Abdurrahman Wahid yang enggan diperintah oleh parlemen. Aquiono menjadi presiden karena langsung didaulat oleh rakyat melalui People Power. Megawati menjadi presiden hanya lebih pada menjalankan GBHN yang didesain oleh anggota MPR/DPR. Sedangkan, Aquiono secara aktif mengeluarkan kebijakan, bukan hanya sebatas eksekutor.

Diawal pemerintahannya, Aquiono merubah sistem konstitusi yang otoriter di masa Marcos, melakukan reformasi pertanian (agraria), dan membangkitkan gairah ekonomi baru di Filipina. Selama menjabat sebagai presiden, terjadi beberapa kali usaha kudeta terhadap dirinya.  Di masa pemerintahan dia pula, konstitusi negara Filipina diubah dengan tidak memperbolehkan presiden untuk mencalonkan lagi sebagai presiden untuk periode ke-2 kalinya. Sehingga Aquiono hanya diperbolehkan menjabat satu periode masa jabatan yakni 6 tahun.

Selesai melaksanakan tugas sebagai presiden, Aquiono kembali kepada kehidupan biasa. Bahkan setelah lengser dari jabatan presiden, ia hanya kembali menggunakan Toyota Crown, bukan Mercedes yang menjadi ciri khas kendaraan untuk pejabat tinggi di Filipina. Pilihannya pun beralasan bahwa setelah pensiun dari presiden, ia tidak lain tidak bukan menjadi rakyat biasa lagi.

Tulisan Sebelumnya

2 Tanggapan

  1. Salam Cinta Damai & Kasih Sayang…

  2. Good day very nice blog!! Guy .. Beautiful .. Wonderful ..
    I will bookmark your site and take the feeds additionally?

    I’m happy to find a lot of useful info here in the put up, we’d like develop extra strategies on this regard, thank you for sharing.
    . . . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: