Misteri Dipilihnya Kamar 1808

GENAP seminggu setelah pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, mestinya polisi sudah selesai memeriksa secara detail seluruh sidik jari di kamar 1808 Hotel JW Marriott. Juga pasti sudah bisa disimpulkan ada berapa orang yang tinggal di kamar itu sejak 15 Juli atau tiga hari sebelum pengeboman. Bahkan, pasti juga sudah diketahui berapa orang yang keluar dan masuk kamar tersebut. Tentu sidik jari itulah, yang akan menjadi kunci banyak hal: berapa orang yang terlibat langsung, berapa sidik jari yang cocok dengan nama-nama yang selama ini sudah diincar polisi, berapa sidik jari yang tergolong orang baru di jaringan ini, dan seterusnya. Bahkan, pemeriksaan tentu sudah bisa bercerita mengenai hal-hal yang remeh-temeh: misalnya makanan apa saja yang pernah mereka pesan untuk dimasukkan ke kamar selama tiga hari itu (bisa diketahui dari pesanan room service), berapa kali kamar itu dibersihkan (bisa diketahui dari pengakuan petugas pembersihan), bagian mana saja pada kamar itu yang tidak boleh dibersihkan, dan apakah mereka sempat makan di restoran yang akan jadi sasaran bom itu (bisa diketahui dari tagihan yang masuk ke rekening kamar 1808). Kalau pernah makan di restoran itu, berapa kali dan berapa orang dan apakah tujuannya sekalian untuk observasi. Bahkan, polisi pasti sudah bisa tahu alasan teroris itu ngotot minta kamar 1808. Bukankah awalnya petugas resepsionis menawarkan kamar 1803, lalu sang teroris minta apakah tidak ada kamar lain. Lantas, ketika ditawarkan padanya kamar 1811, sang teroris masih menawar dengan cara bertanya, “Bisa nggak dapat kamar 1808?” Mengapa begitu strategis kamar tersebut? Dari mana mereka tahu bahwa kamar tersebut strategis? Adakah orang dalam yang menyarankan untuk menggunakan kamar itu? Adakah pihak yang sudah menyiapkan kamar itu sehari sebelumnya? Atau mungkinkah karena dari kamar ini (kalau gordennya dibuka) bisa melihat langsung Hotel Ritz-Carlton di seberangnya yang juga jadi sasaran pengeboman mereka? Tentu polisi juga sudah tahu (dari pemeriksaan kamera CCTV) selama tiga hari itu berapa kali mereka mencoba berjalan di lorong bawah tanah yang menghubungkan Marriott dan Ritz-Carlton yang tentu tidak akan memakan waktu lebih dari 3 menit itu? Atau pemilihan kamar 1808 itu sebenarnya hanya isengnya teroris? Misalnya untuk meledek Densus 88 karena hanya kamar itulah yang memiliki nomor 8 dua buah? Bukankah menjadikan Marriott itu sebagai sasaran merupakan peledekan yang berani kepada polisi mengingat lima tahun lalu hotel itu sudah diledakkan? Ataukah sebenarnya mereka hanya iseng untuk memperingatkan polisi agar polisi jangan sibuk bertengkar sendiri (dengan KPK) yang hari-hari itu lagi seru-serunya? Ataukah juga ingin mengingatkan badan intelijen nasional yang sangat sibuk menginteli gerakan yang lagi mau (katanya) menduduki KPU? Mengingat polisi masih belum berhasil mengungkap siapa dua orang pelaku bom bunuh diri yang badannya hancur di lokasi peledakan itu, tentu bisa diduga bahwa pelaku tersebut adalah orang baru sama sekali. Yakni yang sidik jarinya diketahui dari kamar 1808, tapi tidak ada sidik jari di dokumen polisi yang cocok dengan itu. Sudah ada dua nama yang sempat disebut polisi, tapi dua-duanya ternyata tidak cocok. Bahkan, sejak sebelum hasil pemeriksaan DNA dilakukan sekalipun. Para alumnus pejuang Afghanistan yang kenal dengan Nur Said dengan tegas mengatakan bahwa wajah pelaku bom bunuh diri yang ditemukan itu pasti bukan Nur Said. Sedangkan teman kerja Ibrohim di perusahaan florist (perangkai bunga) di hotel itu mengatakan tidak mengenal dua wajah yang dibuat polisi tersebut. Artinya, keduanya sama sekali bukan wajah Ibrohim. Hasil pemeriksaan DNA kemudian menegaskan kesaksian itu. Kita semua tentu ikut berdoa agar polisi bisa segera mengungkap kasus ini. Agar masyarakat tenang. Kini masyarakat masih dihantui pertanyaan: masih adakah bom-bom lain yang sudah selesai dirakit dan menunggu momentum meledakkannya? Berapa banyak jaringan baru yang berhasil dimasukkan selama “masa tenang” lima tahun terakhir? Kalau pada saatnya polisi berhasil mengungkapkannya, maka segala jenis pertanyaan di atas beserta spekulasi yang beredar selama ini akan segera terceritakan. Termasuk apakah mereka itu sebenarnya juga penggemar Manchester United sehingga tidak rela kalau bom itu harus meledak dua hari kemudian (sesuai dengan batas akhir hari pemesanan kamar), ketika rombongan MU sudah ada di situ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: