Menelusuri Jejak Ibrohim, Penata Bunga yang Lenyap Bersama Ledakan Bom

Setelah bom di Ritz-Carlton dan JW Marriott meledak Jumat lalu (17/7), Ibrohim, perawat dan tukang tata bunga, seperti lenyap bersama sirnanya kepulan asap. Nyaris tanpa bekas. Bukan hanya kita yang bertanya-tanya ke mana dia menghilang, polisi lebih pusing lagi. Sebab, di antara serpihan sembilan tubuh korban, ternyata tidak ada secuil pun daging milik Ibrohim. Terus, siapa sebenarnya dia? Ke mana?

Ibrohim memang penuh misteri. Meski rumahnya di Jalan Cililitan Kecil 21, RT 3, RW 7, sedikit memberikan ilustrasi mengenai latar belakangnya, tetap saja dia sosok yang sulit dibaca. Sejumlah sumber di Jamaah Islamiyah mengaku tidak tahu bahwa ada kadernya yang bernama Ibrohim.

Memasuki rumahnya yang berlantai dua, kita bisa lewat dua cara. Lewat pintu di lantai satu atau dari tangga di luar rumah yang langsung terhubung ke lantai dua.

Melihat kusamnya bangunan sepertinya hunian itu sudah lama ditinggalkan. Pintu depan dan jendela, baik lantai satu maupun dua, dibiarkan terbuka. Meja, kursi, dan aneka perabot di ruang dapur telah terlapisi debu tebal. Sofa di ruang tamu pun sudah jebol. Buku-buku dan perkakas yang rusak diletakkan begitu saja di atasnya. Penulis mencoba mengamati lembar-lembar kertas dan buku itu.

Lantai dua, selain menjadi tempat menaruh ranjang dan kasur, juga menjadi semacam perpustakaan kecil. Dinding-dindingnya lama tidak disentuh cat. Di bagian barat terdapat coretan tangan berupa sketsa gedung bertingkat (tower Ritz-Carlton?) dan gambar kartun bertulisan “Mati Bebi”. Ada rak buku lima tingkat dengan buku-buku berserakan. ”Dulu bukunya banyak. Tapi, karena sudah lama ditinggal, diambil orang-orang untuk dijual,” ujar salah seorang warga.

Di rumah itu, Ibrohim tinggal sejak usia SMP. Rumah itu memang dibeli Ahmad Rodhin Dja’far sekitar 20 tahun lalu. Rumah tersebut kemudian ditempati lima orang. Yakni, Rodhin dan istri plus tiga anaknya: Ibrohim Muharram, Muhammad Syukri, dan Mualif Suni. ”Mereka sebenarnya punya lima anak, tapi yang ikut di sini cuma tiga. Ibrohim di sini biasa dipanggil Aam. Namanya kan Ibrohim Muharram. Panggilnya Aam,” kata Ketua RT 3, RW 7, Tubagus Rudi

Ibu Ibrohim meninggal beberapa tahun setelah menempati rumah tersebut. Bapaknya menyusul sekitar lima tahun lalu. Setelah dua orang tuanya tidak ada, tiga bersaudara itu yang menempati rumah tersebut. Nah, pada awal 2007, terjadi banjir besar. Sungai Ciliwung yang membelah kampung Cililitan Kecil naik. Permukaan air mencapai puncak rumah. ”Setelah banjir, mereka tidak pernah kembali lagi,” katanya.

Para tetangga tidak terlalu banyak mengenal keluarga tersebut. Namun, mereka dikenal sebagai orang yang ramah dan baik. Terutama Ibrohim. ”Dia kalau salat selalu berjamaah di musala dekat rumah. Dia juga sangat sopan kepada para tetangga,” ujarnya.

Kata Rudi, Ibrohim hanya lulusan STM. Anak bungsu di antara lima bersaudara itu sejak masih STM aktif di kegiatan keislaman. Lulus STM, dia aktif dalam kegiatan-kegiatan salah satu partai Islam. ”Semua saudara dia kader partai. Tiap kali masa kampanye dia selalu aktif ngajakin orang. Terakhir kali itu pas pilkada Jakarta pada 2007, ” tuturnya.

Dokumen-dokumen di rumah memperkuat dugaan bahwa Ibrohim yang bapak empat anak itu adalah anggota partai tersebut. Dalam salah satu buku yang ditemukan di rumah itu, terdapat catatan mengenai arkanul baiah (rukun baiat) Hasan Al Banna, pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir yang menjadi acuan pendidikan dakwah partai tersebut. Ada juga tujuh tahap perbaikan menurut Hasan Al Banna. Mulai mempersiapkan pribadi muslim hingga mempersiapkan pendirian negara Islam dan menjadi guru alam semesta.

Slogan-slogan jihad pun terlihat jelas. Di kamar lantai dua, misalnya. Ada tulisan Arab berbunyi Allah Ghoyatuna, Arrasul Qudwatuna, Al Quran Dusturuna, Al Jihadu Sabiluna, Almautu Fisabilillah Asma amanina. Kalimat itu berarti Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, Al Quran petunjuk kami, jihad jalan kami, dan mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi. Ada juga stiker Partai Keadilan Sejahtera berukuran sekitar lima kali 10 cm di salah satu sudut dinding.

Juru Bicara DPP PKS Ahmad Mabruri tidak tahu pasti apakah Ibrohim adalah kadernya. “Kalau cuma stiker, bisa dibeli di mana-mana,” ujarnya. Dia menegaskan PKS adalah partai Islam yang menolak keras tindakan teror. “Soal apakah dia anggota atau simpatisan atau apa, nanti saya cek dulu ke wilayah setempat,” katanya.

Latar belakang Rodhin, ayah Ibrohim, pun sedikit terkuak. Di lantai dua rumah itu, penulis mendapati selembar surat keputusan (SK) yang menerangkan bahwa Rodhin bekerja pada Agence France-Presse, sebuah kantor berita ternama yang bermarkas di Prancis yang biasa disebut AFP. Surat berbahasa Prancis itu menerangkan bahwa Ahmad Rodhin Dja’far berposisi sebagai assistant redaqcionnel polyvalent aupres du directur (yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti asisten redaksional serbaguna untuk direktur). Surat bertanggal 31 Maret 1981 itu menunjukkan bahwa Rodhin mendapat gaji Rp 191.500. Jumlah yang lumayan besar untuk gaji tahun 80-an.

Buku-buku keislaman juga banyak ditemukan di rumah itu. Mulai buku-buku bertema fikih dan tata cara dalam rukun agama hingga buku-buku bernuansa jihad. Salah satunya adalah sebuah buku bersampul hijau bertulisan Mengasingkan Diri di Akhir Zaman.

Mengenai Ibrohim, setelah lulus STM belum diketahui aktivitasnya. Yang jelas, pada 2002, dia menjadi florist di Hotel Mulia. Itu terlihat dari tumpukan daftar gaji Ibrohim. Daftar gaji itu paling awal bertahun 2002, sedangkan yang paling lama adalah tahun 2005. Itu klop dengan kesaksian rekan-rekan Ibrohim yang menyebut dia bekerja sebagai florist sejak empat tahun lalu.

Salah seorang teman Ibrohim, Andi Suhandi, menilai Ibrohim sangat jauh dari kesan sadis seperti halnya watak pembunuh yang tega menghilangkan nyawa. “Orangnya baik sekali,” kata Andi di depan Hotel Ritz-Carlton (23/7).

Andi pernah tinggal bersama Ibrohim di kontrakannya, Jalan Exauri, Kuningan Timur. “Tapi, pada Mei, dia pindah ke kawasan Condet. Saya tidak tahu persis. Katanya rumah kakaknya,” ujarnya. Selama mereka tinggal bersama, tidak ada aktivitas Ibrohim yang dirasakan aneh. “Cuma berangkat kerja, pulang kerja, kadang-kadang pulang ke Kuningan tempat istrinya. Itu aja,” tuturnya.

Di tempat mereka bekerja, yakni Chynthia Florist, perusahaan yang menyuplai kebutuhan bunga Ritz-Carlton dan JW Marriott, Ibrohim juga dikenali sebagai sosok yang tidak banyak omong. “Dia bukan tipe orang yang gampang marah,” katanya. Sejak nama Ibrohim disebut terkait dengan pengeboman, pintu kantor Chynthia Florist di Plaza Mutiara Suit 103, samping JW Marriott, selalu ditutup. “Kami belum tahu kapan bukanya. Nunggu pengumuman,” katanya.

Riwayat Ibrohim juga bisa sedikit dirunut dari beberapa berkas menyangkut pekerjaannya. Dia pernah bekerja di PT Mulia Persada Tata (1992-1994). Berdasar slip gaji yang penulis temukan, Ibrohim juga pernah bekerja di Hotel Mulia Senayan (2002-2005). Dia pindah kerja ke Hotel Hilton Senayan (2005-2006) sebelum akhirnya menjadi florist di Hotel Ritz-Carlton, lalu meninggalkan seribu teka-teki sejak 17 Juli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: